Indonesia
adalah salah satu negara yang menganut sistem demokrasi, dimana prasyarat dari sebuah sistem politik demokrasi
adalah menyelenggarakan pemilu yang bebas dan berkala. dalam berdemokrasi partisipasi
politik masyarakat yang tinggi dalam penyelenggaraan pemilu dapat dijadikan
sebuah tolak ukur sebagai kesuksesan. Dikatakan demikian dikarenakan dalam berdemokrasi
partisipasi politik rakyat adalah aktor utama sarana kedaulatan, dimana rakyat
dapat memilih pemimpinnya secara langsung. Namun bagaimana ketika aktor utama yaitu
masyarakat dalam partisipasi politik ini memiliki sentimen terhadap politisi yang dinilai rongsokan dan dapat
mempengaruhi partisipasi politiknya?
Membangun
sebuah sentimen publik itu bukanlah hal yang sulit, politisi rongsokan yang
menampilkan kedunguannya dengan melempar sebuah narasi yang berisi hal-hal yang
kurang mengenakkan diruang publik, itu sudah mampu memnyulut sentimen publik. Dan
akhirnya akan memunculkan sebuah pengaruh pada masyrakat yaitu keapatisan
terhadap partisipasi politiknya.
Selain
itu, konotasi negatif politik dengan makna jika politik itu muslihat-muslihat
bebas nilai yang membenarkan segala cara untuk mencapai kekuasaan secara tidak
langsung membuat orang risih terhadap kata politik. Dalam bacaan klasik,
politik memiliki sebuah pengertian sederhana yaitu sebuah usaha yang dilakukan
oleh masyarakat untuk menciptakan kebaikan bersama. Implikasinya adalah manusia
akan senantiasa melakukan berbagai cara untuk mampu mewujudkan cita-cita
kebaikan bersama, dimana salah satu penopangnya adalah partisipasi politik,
selain kepercayaan publik.
Dalam
pidato soekarno, beliau secara gamblang mengatakan bahwa tugas kalian lebih sulit karena melawan bangsa sendiri sedangkan tugas
kami adalah melawan bangsa asing.
Ketika
diresapi kembali pidato beliau dan melihat kecenderungan perpolitikan saat ini
memang benar adanya, politik yang didasari perebutan kekuaasaan semata, bahkan
demi kekuasaan sebagian politisi melancarkan seabrek jurus yang tidak peduli
apakah jurus itu benar atau sesat, demi kekuasaan politisi juga tidak tidak
ragu dan malu menebarkan fitnah dan mengabikan etika dan tata krama, patologi
sosial seperti Korupsi, Kolusi, dan nepotisme yang tidak sedikit menjangkit para
politisi rongsokan. Sehingga wajar saja, jika para aktor politik ini lupa
cita-cita awal pendiri bangsa ini, sehingga mampu membangun sentimen publik. Bahkan
Yang lebih menjengkelkan, sebagian politikus sampai hati menerapkan strategi
busuk semacam politik pecah belah dan adu domba . seperti di era kolonial
devide et impera. Mereka menempatkan kekuasaan sebagai harga mati, tidak peduli
meski ia harus ditebus dengan koyaknya tenun kebangsaan dan persatuan. Benar-benar
rongsokan bukan?
Kwalitas
politisi di Indonesia terlihat sangat buruk, banyaknya konflik para aktor
politisi antara politisi lain, sipil dengan politisi, atau bahkan buzzer dengan
politisi yang dipertontonkan di media massa tanpa rasa rasa malu dengan saling
melempar cacian dan makian tanpa kenal lelah, benar-benar tidak berkwalitas. Kehadiran
aktor politik yang kurang aspiratif atau bahkan aktor politik yang mengeluarkan
sebuah jargon Anti korupsi kemudian diciduk KPK. Sangat memprihatinkan bukan? Wajar
jika publik sentimen dengan para politisi, maka jangan heran ketika satu waktu
tingkat partisipasi masyarakat akan menurun karena menganggap tidak lagi
memiliki figur yang layak.
Jangan
pernah lupa bacaan klasik, jika politik memiliki sebuah pengertian sederhana
yaitu sebuah usaha yang dilakukan untuk menciptakan kebaikan bersama. Maka seharusnya
politik menjadi jalan terang untuk mensejahterakan rakyat, jangan sampai
berubah menjadi “ranjau” yang seolah-olah menyengsarakan rakyat, agar demokrasi
tetap dalam konotasinya “untuk rakyat, oleh rakyat, dan dari rakyat”.
https://bukanstafsus.blogspot.com/2020/04/sentimen-publik-terhadap-politisi.html
Saranghae
BalasHapus