Jumat, 24 April 2020

Sentimen Publik Terhadap Politisi Rongsokan Yang Mempengaruhi Partisipasi Politik



Indonesia adalah salah satu negara yang menganut sistem demokrasi, dimana  prasyarat dari sebuah sistem politik demokrasi adalah menyelenggarakan pemilu yang bebas dan berkala. dalam berdemokrasi partisipasi politik masyarakat yang tinggi dalam penyelenggaraan pemilu dapat dijadikan sebuah tolak ukur sebagai kesuksesan. Dikatakan demikian dikarenakan dalam berdemokrasi partisipasi politik rakyat adalah aktor utama sarana kedaulatan, dimana rakyat dapat memilih pemimpinnya secara langsung. Namun bagaimana ketika aktor utama yaitu masyarakat dalam partisipasi politik ini memiliki sentimen terhadap  politisi yang dinilai rongsokan dan dapat mempengaruhi partisipasi politiknya?
Membangun sebuah sentimen publik itu bukanlah hal yang sulit, politisi rongsokan yang menampilkan kedunguannya dengan melempar sebuah narasi yang berisi hal-hal yang kurang mengenakkan diruang publik, itu sudah mampu memnyulut sentimen publik. Dan akhirnya akan memunculkan sebuah pengaruh pada masyrakat yaitu keapatisan terhadap partisipasi politiknya.
Selain itu, konotasi negatif politik dengan makna jika politik itu muslihat-muslihat bebas nilai yang membenarkan segala cara untuk mencapai kekuasaan secara tidak langsung membuat orang risih terhadap kata politik. Dalam bacaan klasik, politik memiliki sebuah pengertian sederhana yaitu sebuah usaha yang dilakukan oleh masyarakat untuk menciptakan kebaikan bersama. Implikasinya adalah manusia akan senantiasa melakukan berbagai cara untuk mampu mewujudkan cita-cita kebaikan bersama, dimana salah satu penopangnya adalah partisipasi politik, selain kepercayaan publik.
Dalam pidato soekarno, beliau secara gamblang mengatakan bahwa tugas kalian lebih sulit karena melawan bangsa sendiri sedangkan tugas kami adalah melawan bangsa asing.
Ketika diresapi kembali pidato beliau dan melihat kecenderungan perpolitikan saat ini memang benar adanya, politik yang didasari perebutan kekuaasaan semata, bahkan demi kekuasaan sebagian politisi melancarkan seabrek jurus yang tidak peduli apakah jurus itu benar atau sesat, demi kekuasaan politisi juga tidak tidak ragu dan malu menebarkan fitnah dan mengabikan etika dan tata krama, patologi sosial seperti Korupsi, Kolusi, dan nepotisme yang tidak sedikit menjangkit para politisi rongsokan. Sehingga wajar saja, jika para aktor politik ini lupa cita-cita awal pendiri bangsa ini, sehingga mampu membangun sentimen publik. Bahkan Yang lebih menjengkelkan, sebagian politikus sampai hati menerapkan strategi busuk semacam politik pecah belah dan adu domba . seperti di era kolonial devide et impera. Mereka menempatkan kekuasaan sebagai harga mati, tidak peduli meski ia harus ditebus dengan koyaknya tenun kebangsaan dan persatuan. Benar-benar rongsokan bukan?
Kwalitas politisi di Indonesia terlihat sangat buruk, banyaknya konflik para aktor politisi antara politisi lain, sipil dengan politisi, atau bahkan buzzer dengan politisi yang dipertontonkan di media massa tanpa rasa rasa malu dengan saling melempar cacian dan makian tanpa kenal lelah, benar-benar tidak berkwalitas. Kehadiran aktor politik yang kurang aspiratif atau bahkan aktor politik yang mengeluarkan sebuah jargon Anti korupsi kemudian diciduk KPK. Sangat memprihatinkan bukan? Wajar jika publik sentimen dengan para politisi, maka jangan heran ketika satu waktu tingkat partisipasi masyarakat akan menurun karena menganggap tidak lagi memiliki figur yang layak.
Jangan pernah lupa bacaan klasik, jika politik memiliki sebuah pengertian sederhana yaitu sebuah usaha yang dilakukan untuk menciptakan kebaikan bersama. Maka seharusnya politik menjadi jalan terang untuk mensejahterakan rakyat, jangan sampai berubah menjadi “ranjau” yang seolah-olah menyengsarakan rakyat, agar demokrasi tetap dalam konotasinya “untuk rakyat, oleh rakyat, dan dari rakyat”.


https://bukanstafsus.blogspot.com/2020/04/sentimen-publik-terhadap-politisi.html

1 komentar:

Tentang Nasionalisme di Era Moderen: Apa Kabar Indonesia? (Dalam Persfektif Soekarno)

    Era moderan adalah era dengan tantangan besar, yang bercirikan dengan kuatnya gelombang serta arus globalisasi. Derasnya arus globalisas...